Ronsen's Blog

Masih Perlukah Sekolah Setinggi Langit?

Monday, May 2, 2011

Hari ini tanggal 2 Mei diperingati orang Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tanggal 2 Mei diambil sebagai hari peringatan bertepatan dengan tanggal lahirnya Ki Hajar Dewantara seorang pahlawan nasional di bidang pendidikan. Pendidikan dasar tentu sangat penting bagi kita semua tetapi bagaimana dengan pendidikan yang didapat di kampus? Masih perlukah?

Banyak orang yang berhasil tanpa harus menempuh jalur kuliah atau bahkan drop out tidak menjadi penghalang keberhasilan seseorang dalam berkarir. Seperti contoh, Bill Gates dengan perusahaan Microsoft-nya. Dulu *ehm* Microsoft menguasai hampir semua teknologi informasi di bidang perangkat lunak tetapi sekarang ditendang oleh Steve Jobs dengan produk-produk Apple-nya yang menggiurkan. Dan Steve Jobs ini juga seorang drop out! Dan tentu, role model terakhir kita — Mark Zuckerberg — pemuda yang menjadi kaya raya dengan Facebook-nya juga seorang drop out.

Menjadikan mereka sebagai contoh untuk alasan berhenti kuliah tentu harus dipertimbangkan matang-matang. Mereka ini pada dasarnya adalah orang-orang pintar dan menguasai bidangnya masing-masing atau setidaknya mereka mempunyai jiwa wirausaha. Untuk mereka yang masih belum jelas masa depannya lebih baik menyelesaikan kuliah. Tirulah Larry Page dan Sergey Brin, mereka adalah pendiri Google yang meraih gelar PhD dari Universitas Standford.

Masalah Pendidikan di Indonesia

Mari sejenak kita lupakan orang-orang hebat di atas sana, kita kembali melihat perihnya pendidikan di negeri ini. Masalah pendidikan di Indonesia berlapis-lapis dan tentu korbannya adalah masyarakat secara umum.

Masalah pertama adalah korupsi yang diperlihatkan di sekolah, seperti adanya pungutan-pungutan liar yang dikemas rapi atau buku yang selalu berubah letak halamannya setiap tahun tetapi isinya tidak jauh berbeda. Hal ini menyebabkan sekolah memaksa orang tua harus membeli buku baru dengan alasan supaya seragam.

Masalah kedua adalah kesejahteraan guru. Betapa miris melihat guru sehabis pulang sekolah harus bekerja paruh waktu sebagai tukang ojek. Beginikah negara ini memperlakukan pahlawan tanpa tanda jasa? Gelar yang ditanamkan sejak masa bangku sekolah yang hanya sekedar buaian murahan. Dengan beratnya kehidupan para guru, tentu memberi pengaruh besar terhadap kualitas siswa-siswi di sekolah.

Masalah ketiga adalah mahalnya dunia pendidikan. Siapa yang tidak setuju sekolah itu mahal? Pendidikan di zaman sekarang seperti barang mewah. Hanya mereka yang mampu yang dapat mengecap pendidikan atau mereka yang mempunyai kelebihan saja yang akan diberi beasiswa. Tetapi lihatlah berapa banyak yang miskin dan bodoh negara ini. Jika jumlahnya terlalu banyak malah akan lebih memprihatinkan. Negara ini akan sangat lambat untuk maju. Sekolah itu harus dibikin semurah-murahnya bukan hanya uang sekolah tetapi buku-buku juga, supaya semua lapisan mendapat kesempatan menuntut ilmu.

Tujuan Pendidikan

Baiklah, aku sudah berbicara tentang masalah pendidikan dan juga mereka yang berhasil dengan atau tanpa sekolah yang tinggi. Mari kembali ke topik. Apa masih perlu sekolah tinggi-tinggi? Mari kita kembali ke dasar tujuan pendidikan. Sekolah itu dibuat untuk menimba ilmu. Menambah pengetahuan kita akan hal-hal yang belum kita ketahui. Bukan sekedar mencari nilai di rapor atau sekedar menambah gelar di belakang nama.

Inilah sayangnya aku sadar setelah selesai menyelesaikan kuliah. Kebanyakan belajar hanya untuk menghadapi ujian. Sebenarnya aku ingin belajar hal-hal yang baru lewat bangku kuliah karena sejujurnya lebih mudah dibanding belajar sendiri. Tetapi aku sangat benci ujian! Haha...