Ronsen's Blog

Kebetulan, Nasib, dan Takdir

Wednesday, July 20, 2011

#52Sudah lama sekali ingin menulis tentang topik ini, tetapi sampai sekarang pun belum mendapatkan pencerahan yang memuaskan. Karena pada akhirnya memang tidak ada jawaban yang pas untuk semua orang.

Mereka yang percaya Tuhan tentu saja tidak percaya dengan yang namanya kebetulan. Segala sesuatunya sudah diatur sedemikian rupa yang kadang sulit dimengerti oleh manusia. Biasanya ini disebut sebagai predestinasi.

Tetapi predestinasi itu sendiri berbeda dengan takdir atau nasib dalam konteks umum karena bertentangan dengan kehendak bebas itu sendiri. Seperti halnya kita bebas memilih baju, pekerjaan, atau angkot apa yang kita naiki. Ah, itu gampang. Coba pikirkan kembali apakah jodoh itu termasuk kehendak bebas atau sudah diatur oleh Tuhan. Kenapa jodoh tidak sesimpel memilih baju? Semacam butuh pertolongan Tuhan. Bingung, kan? Aku saja bingung. Atau bisa saja kehendak bebas itu ternyata diberikan terbatas kepada manusia karena pada awalnya kita ini hanya ciptaan semata?

Karma

Aku tidak percaya yang namanya karma. Titik! (Ish, titik kok dibelakangnya tanda seru?) Biasanya kutipan yang sering diambil itu dari: kita akan menuai apa yang kita tabur. Percayalah, ayat itu bukan berbicara tentang karma. Mereka yang hidup dalam anugerah tidak akan menuai yang buruk biarpun kadang menabur yang salah. Lho? Iyalah, kesalahanmu sudah dibayar di kayu salib.

Banyak alasan orang berbuat baik karena takut jika berbuat salah nantinya akan kena karma. Anak lahir dengan kekurangan fisik dianggap sebagai dosa (karma) yang dilakukan oleh orang tua atau nenek moyangnya. Betapa melegakannya kalau tahu orang yang berbuat salah kepadamu mengalami kemalangan. Kemiskinan, sakit penyakit, kesusahan, dll selalu menghantui karena tidak tahu apa itu arti diselamatkan. Percayalah, kekristenan tidak mengajarkan hal-hal seperti itu.

Berhentilah percaya karma, belajarlah hidup dalam kasih karena itu akan membuat hidupmu tenang dan damai.