Ronsen's Blog

Asumsi Itu Jahat

Wednesday, November 2, 2011

Dua hari yang lalu, saat nongkrong bersama teman-teman aku melihat segerombolan pemuda-pemudi sedang mengunjungi rumah per rumah.

Saat mereka berada tepat di samping kami aku pun menegor mereka, "Dek, kalian lagi ngapain?"

"Lagi cari dana, Bang," jawab seorang cewek, sebut saja namanya si Kajol (nama aslinya sih Butet). "Abang mau nggak nyumbang?"

"Kalian nyari sumbangan rame-rame begini, Kajol?" tanyaku kembali menghiraukan pertanyaannya.

"Iya, Bang," jawab si Kajol.

Selanjutnya percakapan dilanjutkan dengan beberapa pertanyaan seputar cara mereka mencari dana. Terlalu banyak alasan yang dibuat kenapa cara mereka seperti itu. Ada semacam ketakutan-ketakutan yang mereka sampaikan. Semacam asumsi yang terlalu dibuat-buat sih menurutku. Nantinya beginilah, nantinya begitulah. Intinya karena ini berkaitan dengan dana, mereka takut akan ada yang menilep uang tersebut. Beramai-ramai memungut dana adalah cara terbaik yang terpikirkan?

Yah, agak sedikit kaget dengan usia mereka yang masih remaja seperti ini sudah dihantui pikiran-pikiran yang menghambat potensi mereka. Remaja seharusnya lebih bebas bukan dihadapkan tembok-tembok penghalang yang dibuat oleh pikiran mereka sendiri. Ketidakpercayaan mereka dalam tim juga menjadi perhatianku. Sekedar informasi, mereka itu adalah sebuah panitia acara Natal mendatang. Semoga saja mereka tidak sekedar menjalankan acara ini mendapat lelahnya saja. Eh, aku jadi berasumsi begini.

Apakah remaja saja yang mengalami hal seperti ini?

Ternyata tidak. Bahkan kadang aku sendiri sampai sekarang mempunyai asumsi-asumsi yang menghambatku untuk maju. Memang bukan tanpa alasan, kegagalan-kegagalan yang pernah kualami ternyata membentuk sebuah karaktek; karakter yang lemah tepatnya. Tidak lagi berani mencoba meraih kembali mimpi itu adalah saat dimana aku gagal menjadi manusia. Harapan itu seperti sangat jauh dan sulit untuk digapai.

Pikiran kadang menyesatkan.

Semoga mulai saat ini aku berusaha kembali. Saat dimana aku sudah melihat cahaya terang di ujung di terowongan itu.

Tapi teringatnya kembali ke cerita di atas, karena kebanyakan bertanya (gara-gara merasa sok sudah tua) aku malah tidak jadi menyumbang. Jahat benar deh!