Ronsen's Blog

Nasionalisme Taik Kucing

Friday, December 23, 2011

Kalau sudah bicara tentang nasionalisme, kebanyakan orang Indonesia menjadi gelap mata. "Salah benar, ini negaraku!" begitulah teriakan mereka. Mengesampingkan logika, berharap bisa segagah para pahlawan yang gugur merebut kemerdekaan. Sekarang, tidak lebih dari sumbu pendek kebodohan.

Masih ingat ribut-ribut soal Pulau Komodo pada ajang kompetisi New 7 Wonders? Entah apa yang terjadi dengan kompetisi tersebut. Siapa yang akhirnya menjadi pemenang aku tidak pernah tahu. Dengan senang hati aku menertawakan orang-orang yang ikutan menyumbangkan suaranya setelah habis dirampok perusahaan jadi-jadian itu. Belum lagi banyaknya politisi dan artis yang ikutan mempromosikan acara ini membuat aku tertawa terbahak-bahak atas kebodohan mereka.

Baru-baru ini, RIM berani menolak permintaan pemerintah untuk membangun data center-nya di Indonesia. Research In Motion ternyata lebih memilih Malaysia untuk membangun pabriknya. Pemerintah pun berasa punya hak istimewa karena tahu pengguna BlackBerry terbanyak adalah Indonesia. Pemerintah mengancam akan memblokir layanan BlackBerry (lagi?) jika RIM tidak membangun data center-nya di Indonesia. Selanjutnya apa lagi? Memaksa Google dan Facebook membuat data center mereka juga? You know what, it's not OK not to know how the Internet works!

Karena jengkel dengan sikap RIM ini, Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Informasi (LPPMI) mengadakan sebuah aksi protes dengan melakukan pelemparan BlackBerry ke Kedutaan Besar Kanada.

Kita terusik bahwa dengan satu layanan BlackBerry saja kita sebagai bangsa yang besar dikerjain. Kita adalah bangsa besar, ini negeri yang besar jadi jangan main-main. Siapapun yang merasa ditelantarkan oleh RIM silakan ikut, siapapun yang memakai BlackBerry juga kita undang. Kita tunjukkan pada RIM bahwa negeri ini punya rasa nasionalisme yang tinggi.

Begitulah kata-kata Kamilov Sagala, Direktur Eksekutif LPPMI, yang kukutip dari Detikinet. Teriakan nasionalismenya malah terdengar konyol di telingaku. Lempar BlackBerry? Apa salahnya Kedutaan Kanada? Memangnya RIM itu Kanada? Perbaiki dulu sistem birokrasi di Indonesia yang sudah carut-marut, itu yang membuat orang asing seperti ogah-ogahan berinventasi di sini, seperti yang ditulis oleh Tekno Jurnal berikut:

Sudah bukan rahasia lagi bahwa banyak hal yang menjadi ribet di Indonesia termasuk juga di dunia usaha. Saya juga sering mendengar keluhan relasi saya yang berasal dari luar negeri ketika masuk ke Indonesia untuk usaha mereka. Mulai dari harus “bermain” uang hingga rumitnya birokrasi di Indonesia. Jadi tidak aneh jika banyak perusahaan yang lebih memilih membangun usaha mereka di luar negeri walaupun Indonesia termasuk salah satu target pasar mereka.

Belum cukup hanya itu, masih ada satu lagi. Ini menyangkut free software. Banyak perangkat lunak dibangun oleh pemrogram Indonesia dengan memanfaatkan (fork) kode sumber terbuka milik orang luar (orang bule maksudku) dan diberi label karya anak bangsa. Cieeee... karya anak bangsa. Free software tidak pernah mengkotak-kotakkan perangkat lunak. Gerakan ini dibuat untuk kesejahteraan manusia. Okelah, aku terdengar membesar-besarkan tapi benar kok. Kalau tidak ada free software hanya sedikit orang yang bisa menikmati enaknya menggunakan komputer. Menggunakan perangkat lunak (ataupun keras) tidak perlu membawa-bawa label "karya anak bangsa" dan semacamnya. Kalau memang bagus pasti akan dipakai banyak orang bahkan mereka yang bukan orang Indonesia.

Dari tadi ngemeng doang lu Ronsen, terus gimana caranya menunjukkan nasionalisme yang benar?

Jangan membuang ludah sembarangan. Itu sudah cukup! *angkat rok, kabuuuuurrrr*