Ronsen's Blog

Play Framework 2.0, Kenapa Kau?

Thursday, March 15, 2012

Sebelum mengenal Play Framework, Java itu sangat susah untuk dipelajari. Maksudku framework yang ada tidak bermanusiawi bahkan untuk membuat sebuah aplikasi yang sederhana. Dengan Play, Java menjadi semudah Rails — sebuah framework yang dibuat dengan bahasa Ruby. Coba bayangkan mengembangkan aplikasi tanpa harus restart web server, membuat testing juga gampang, didukung hampir semua IDE yang populer. Pokoknya semuanya jadi indah.

Kemarin, versi final Play Framework 2.0 keluar. Yay!  Dengan ditendangnya dari komunitas Java aku tidak tahu berapa banyak yang senang dengan kabar ini. Yang aku tahu beberapa temanku menggunakannya. Segera saja aku mengunduh versi terbaru ini karena mau mencoba-coba fitur yang disediakan.

Eh, keparat!

Itulah komentar pertama setelah menggunakan versi 2.0 ini. Selain berbeda dengan versi 1.2 juga entah kenapa berat. Sangat beraaaaaat... bahkan di notebook berprosesor Dual Core dan bermemori 2GB ini. Bukannya tidak suka dengan perubahan yang baru ini tetapi ini menjadikan Java rumit kembali. Ah, kimaklah!

Coba lihat sintaks di bawah ini:
public static Result index() {
   return redirect(routes.Application.tasks());
}

Sintaks itu kuambil dari contoh yang ada di dokumentasi. Dan Eclipse tiba-tiba semacam mengalami menstruasi karena ada garis merah di selangkangan kode sederhana tersebut. Langsung jijik aku melihatnya. Beberapa class juga tidak berhasil di-import di IDE kebanggaanku itu tetapi tidak ada pesan error saat dijalankan di browser.

Aku tidak bisa membayangkan menggunakan framework yang baru ini pada aplikasi yang besar jika kesalahan sederhana saja ternyata tidak dikenali sebagai kesalahan (karena berjalan dengan mulus di browser). Terlebih lagi repotnya meng-upgrade project yang dibuat pada versi 1.2 ke 2.0. Issh!

Ah sudahlah, mungkin sudah saatnya belajar framework yang lain saja atau... bahasa yang lain.