Ronsen's Blog

Lubang-Lubang di Film Fiksi

Sunday, July 1, 2012

Kemarin akhirnya aku menonton film Captain America, Avenger pertama dari para pahlawan yang akan menyelamatkan bumi. Sebelumnya aku sudah menonton Thor. Biarpun urutannya agak sedikit salah karena pada akhir kredit film Thor, Nick Fury sedang membicarakan kekuatan yang tidak terbatas. Sedikit sadar ternyata itu adalah benda yang ditemukan oleh pasukan Nazi di film Captain America.

Film-film seperti ini memang menyenangkan untuk ditonton. Ditambah efek grafis dan suara yang semakin hari semakin tambah bagus. Semuanya dibuat untuk memanjakan penonton. Dari segi cerita pun semakin asyik buat diikuti. Tetapi tentu saja film yang bertema seperti ini selalu ada yang menganjal di hati. Berikut menurutku:

Pasukan

Pada film Captain America (sebagai contoh) diperlihatkan betapa sulitnya merekrut orang untuk menjadi prajurit atau tentara. Kalau ingin menjadi prajurit terlebih dahulu harus mendaftarkan diri. Mungkin kalau di Indonesia ada berbagai langkah yang harus dipenuhi. Misalnya, surat keterangan dari RT/RW, fotokopi KTP, pas foto, surat keterangan dari kantor polisi, dsb. Rumitlah pokoknya. Tetapi kalau di sisi penjahat, pasukan dengan begitu banyaknya bisa terkumpul dengan mudahnya. Beda halnya jika pasukan-pasukan tersebut adalah hasil cloning seperti di film Star Wars, aku tidak perlu pusing memikirkannya.

Teknologi

Kemungkin seorang ahli bisa membuat alat-alat yang canggih dalam waktu singkat itu sangat mustahil. Banyangkan para penjahat ini membuat pesawat atau senjata yang desainnya belum ada di dunia ini dapat diciptakan dengan cepat dan mudah. Belum lagi kita bicara perangkat lunaknya. Dalam dunia nyata saja harus memasuki tahap-tahap yang panjang dan pengujian yang benar untuk mencegah terjadi kesalahan yang fatal. Tetapi sepertinya tidak berlaku untuk para penjahat.

Uang

Ini yang paling mengherankan. Dari mana para panjahat ini mendapatkan uang? Apa pasukan-pasukan yang mereka rekrut itu juga digaji? Tidak mungkin mereka rela dibayar gratis membela seorang sakit jiwa yang ingin menguasai dunia. Dan dari mana uang untuk membiayai semua riset dan tenaga ahli yang membangun alat-alat yang super canggih tersebut? Berapa lama dan berapa banyaknya uang yang dihabiskan misalnya untuk membangun Death Star?

Film-film fiksi memang sebaiknya dinikmati saja.