Ronsen's Blog

Melupakan Cara Bertahan Hidup

Friday, January 18, 2013

Waktu aku masih duduk di sekolah, aku beberapa kali bertanya di dalam hati untuk apa aku mempelajari semua mata pelajaran ini. Pertanyaan itu muncul berkali-kali sejak aku duduk di bangku SD, SMP, dan SMU. Pada saat titik tertentu, aku pun berhenti bertanya dan mengikuti alur sistem pendidikan yang diberikan kepada generasiku dan kemungkinan generasi mendatang.

Jika sekarang aku mencoba menjawab pertanyaan itu, aku bisa menjawab dengan sangat baik! Sekolah adalah tempat kita menuntut ilmu. Hah?! Benar kok, persis seperti yang dikatakan oleh guru-guruku dulu. Sekolah adalah bekal untuk masa depan yang kelak digunakan untuk mencari pekerjaan. Jika kau ingin menjadi dosen kalkulus, pelajaran integral yang membuatmu keriting di sekolah tidak akan sia-sia (hanya saja tidak akan terlalu berguna kalau kau akhirnya menjadi seorang penjahit baju). Atau kau sekarang menjadi seorang dokter maka kerja kerasmu menghapal anatomi tubuh manusia terbalaskan tetapi tidak untuk pelajaran akuntansimu, akan hilang seiring waktu.

Jadi benar kan, sekolah itu tempat menuntut ilmu. Tetapi tidak semuanya berguna. Hanya yang menjadi keahlianmu saja nantinya akan terpakai, sebagian hilang. Semacam menabur berbagai jenis benih ke tanah dan melihat apa yang nantinya tumbuh. Seperti itulah gambaran sekolah. Justu yang tidak diajarkan malah yang paling penting, bagaimana harus bertahan hidup. Manusia seharusnya harus tahu mencari makan sendiri dari alam, menjadi petani dan nelayan. Itulah pelajaran dasar menjadi manusia. Selama di sekolah kita tidak diajarkan bagaimana menanam padi malah bertahun-tahun diajarkan bagaimana harus berbahasa dengan baik dan benar. Tidak diajarkan bagaimana memancing ikan di sungai atau di laut karena membuat puisi suatu saat akan perutmu kenyang.

Berjuta-juta tahun evolusi dan kita pun hampir semua berakhir duduk manis mencari lowongan pekerjaan. Tidak mampu mengolah tanah, tidak mampu lagi merakit perahu untuk menjala ikan. Sekolah sekarang mengaburkan kemampuan apa yang harus dimiliki seseorang supaya dapat bertahan hidup. Jika suatu saat aku diberikan seseorang sebidang tanah, aku hanya mampu menjualnya atau bahkan berspekulasi tanpa bisa menghasilkan apapun dari tanah tersebut.