Ronsen's Blog

Cerita tentang Aaron Swartz dan Refleksinya Bagi Kemajuan Internet Kita

Sunday, August 10, 2014

Belakangan gua lagi suka nonton film dokumentasi. Alasannya sih karena lagi bosan nggak tau mau ngapain lagi. Kemudian gua cari film bisa buat mengisi waktu dan gak bikin gua bosan. Film dokumentasi yg pertama gua tonton sejak nggak pernah lagi duduk manis di depan TV adalah film tentang Aaron Swartz. Kalo kerjaan lo nggak hanya mantengin Facebook seharian pasti tau dong siapa dia. Eh, nggak juga sih, minimal kalo lo blogger pasti kenallah.

Jadi ceritanya si Swartz ini pas masih belia dan unyu sudah aktif berkontribusi untuk kemajuan Internet. Salah satunya adalah RSS, fitur sindikasi situs web yang sekarang sudah kehilangan pamornya digantikan Facebook dan Twitter. Kalo gua liat sih, dari mulai RSS ini Swartz punya rasa keterbukaan yang tinggi, bahkan sangat tinggi malah. Makanya kemudian dia mengenalkan Creative Commons, semacam jenis lisensi untuk karya cipta yang nggak seketat hak cipta (Copyright). Creative Commons bertujuan untuk melindungi sang pemilik karya yang punya semangat berbagi.

Nah di situ kemudian jadi masalah buat Swartz, rasa berbagi ini nggak dimiliki oleh sebagian instansi pemerintah di Amerika sana. Beberapa jurnal ilmiah disimpan di sebuah lembaga yang dibentuk oleh pajak rakyat Amerika tetapi kalau mau diakses harus tetap bayar. Gua bisa merasakan kesalnya Bang Swartz ini. Selain sudah dibayar dengan pajak, eh masih tetap disuruh bayar buat baca. Negara kok cari untung banget sih?! Makanya muncullah darah aktivisnya atau kalau netizen Internet bilangnya hacktivist. Melalui server MIT dia pun mengunduh satu per satu jurnal tersebut. Karena 'ulah'-nya ini, Bang Swartz pun bermasalah dengan beberapa pihak otoritas Paman Sam dan berakhir dengan bunuh diri sebelum kita tau tujuan dia mengunduh jurnal-jurnal tersebut. Hiks...

Ada satu lagi sepak terjang Aaron Swartz yang sangat berjasa bagi keterbukaan Internet; bagaimana dia memulai gerakan protes untuk menggagalkan disetujuinya SOPA dan PIPA. Sebuah rancangan UU yang ditujukan untuk mengatasi masalah pembajakan. Tetapi setelah dipelajari UU ini malah nantinya akan mengekang kebebasan berpendapat. Makanya Swartz sangat keras menentang SOPA/PIPA ini. Awalnya dia dianggap sepele oleh beberapa lawyer di sana, mereka berpikir Internet nggak punya kekuatan sama sekali untuk melawan. Ternyata mereka salah, perusahaan-perusahaan yang mendukung SOPA/PIPA rame-rame dimusuhi dan dijauhi oleh perusahaan/individu yang bergerak di bidang teknologi informasi. Kalo orang-orang di sini bilangnya boikot dan akibatnya ternyata fatal, kerugiannya nggak bisa dibilang sedikit. Singkat cerita, SOPA/PIPA pun akhirnya dibatalkan.

Betapa kuatnya kekuatan Internet di Amerika sana membuat gua merenungi kekuatan kita sambil bengong selama 3 jam mati lampu karena pemadaman bergilir yang makin menggila dilakukan PLN. Jadi ceritanya, beberapa hari yang lalu Andrew Darwis, pendiri Kaskus, diundang untuk bertemu dengan Presiden Terpilih Jokowi. Ngapain? Entahlah, gua cuman baca headline beritanya tapi nggak mungkinlah dia diundang buat ngajarin Jokowi bikin akun doang. Kalau mau dibandingkan saat Obama di awal pemerintahannya, dia duluan melakukan hal seperti ini. Tetapi Obama nggak mengundang satu orang saja, ada Mark Zuckerberg, Eric Schmidt, Steve Jobs, dan beberapa orang lain untuk membicarakan inovasi di bidang Internet. Lha, kita cuman diwakilkan oleh satu orang? Sedih banget, kan?