Ronsen's Blog

Setuju dengan Pemblokiran Telegram dan Media Sosial Lainnya

Saturday, July 15, 2017

Tangkapan layar dari Bisnis.com

Sekarang aku mengerti alasan dibalik pemblokiran Telegram, aplikasi chat buatan  Pavel Durov. Radikalisme memang sangat sulit diberantas terutama di dunia maya, maka dengan alasan yang sama, aku pun setuju dengan rencana pemblokiran Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube oleh Menkominfo.

Selain itu perlu dicermati, dengan diblokirnya media sosial, pengguna akan menyadari pentingnya bagi kita saling bertatap muka saat membicarakan hal-hal apapun itu termasuk topik remeh temeh lainnya. Tidak sekedar menghabiskan waktu berlama-lama di depan layar hape atau laptop. Pamer foto jalan-jalan, makan makanan yg enak, pamer pacar baru, dll, yang jelas-jelas membangkitkan rasa iri hati bagi orang lain.

Pengguna yang menggunakan media sosial untuk berjualan, harusnya lebih berpikir kalau platform tersebut bukan tempat yang tepat untuk sarana e-commerce. Kalau memang mau berbisnis, gunakan layanan yang tepat. Jika tidak mengerti, kembali seperti dulu, buat toko atau menyewa kios misalnya. Kalau tidak punya modal, tidak usah coba-coba berjualan online. Mau berbisnis kok coba-coba? Mending jadi pegawai kantoran aja atau daftar jadi PNS mumpung lagi buka lowongan. Dengan begini kita kan tidak capek-capek bermimpi menjadi pemain ekonomi digital, se-Asia Tenggara pula?

Jadi kalau dipikirkan matang-matang, pemblokiran Telegram dan rencana pemblokiran media sosial lebih banyak manfaatnya daripada kerugiannya. Ini juga menyangkut kedalautan NKRI di dunia maya. Dengan begini bangsa kita tidak lagi dipandang sebelah mata oleh negara lain. Karena kita adalah negara satu-satunya yang berhasil membungkam terorisme dan menangkal radikalisme dengan melakukan pemblokiran. Semudah itu!

Aku yakin setelah pemblokiran ini dijalankan, teroris akan kebingungan mencari platform yang cocok buat mereka. Entahlah suatu saat mereka membuat app sendiri atau mungkin mencari cara untuk menyembunyikan pesan online dengan cara yang lebih halus. Sungguh membuat mereka kerepotan. Kita tahu betapa jagonya mereka menumbuhkan rasa simpati terhadap aksi-aksi sadis mereka tapi kalau dihadapkan dengan internet, mereka benar-benar buta, tidak tahu apa-apa.