Ronsen's Blog

Sedikit Pengalaman Menggunakan Ubuntu 12.10

Monday, October 29, 2012


Setelah beberapa hari menggunakan Ubuntu 12.10, aku memutuskan untuk tidak menggunakan Unity. Sebenarnya aku menyukai Unity tetapi versi terbaru ini tidak lagi mendukung Unity 2D seperti yang kugunakan pada versi sebelumnya. Unity 3D ini menyebabkan notebook terlalu cepat panas (disebabkan karena sebuah proses bernama compiz yang selalu menggunakan CPU 20%). Biarpun Unity 2D terpasang tetapi sepertinya tidak ada cara mengaktifkannya.

Gnome Shell adalah yang pertama kupikirkan sebagai pengganti Unity. Setelah melakukan tweak di sana dan di sini dan memasang beberapa extension, Gnome Shell pun sedikit mirip Unity. Pas asyik-asyik mengutak-atik, kuperhatikan ternyata penggunaan CPU tidak kalah borosnya dengan Unity. Apalagi saat menonton beberapa video dengan kualitas yang tinggi, terlihat patah-patah.

Sedikit mulai frustasi menggunakan Ubuntu ini, aku pun mencari beberapa alternatif lain di Google. Lubuntu adalah pilihan yang cocok untuk perangkat keras yang sudah cukup tua ini. Hasilnya, seperti yang dipromosikan, Lubuntu ini sangat ringan dan sedikit mengingatkan dengan tampilan Gnome 2. Yah sudahlah, aku hanya tidak mau resource digunakan terlalu banyak hanya untuk sekedar tampilan.

Update:

Menggunakan Lubuntu memang sangat ringan tetapi ternyata susah untuk diutak-atik. Masih banyak konfigurasi harus dilakukan menggunakan command line. Coba saja menambahkan program di Menu Utama atau sekedar menambah program saat komputer pertama kali jalan; susah!

Kutinggalkan Lubuntu dan mencoba Xubuntu. Ternyata Xubuntu hampir sama ringannya dan yang paling utama hampir semua konfigurasi tidak perlu dilakukan dengan command line. Karena sudah nyaman menggunakan Xubuntu ini aku pun membuang Ubuntu dan Lubuntu untuk menghindari konflik dan menambahkan tempat pada harddisk.

App Store

Thursday, October 18, 2012

Toko aplikasi yang diperkenalkan Apple memang sangat memudahkan pengguna mengunduh aplikasi. Tetapi sebelumnya aplikasi tersebut terpampang di toko tersebut ada proses yang panjang yang kadang membuat stres beberapa pengembang. Ini dilakukan untuk menjaga kualitas dan yang paling penting menghindari malware secara tidak sengaja terpasang di gadget pengguna.

Sistem yang tertutup ini juga mulai diadopsi yang lain misalnya Google, Amazon, dan Microsoft. Biarpun cara seperti ini hanya terkenal di lingkungan handphone dan sepertinya hanya beberapa pengguna saja yang tidak suka, selebihnya tenang-tenang saja. Tetapi apa jadinya kalau cara ini diterapkan di personal komputer? Juga harus melewati proses persetujuan dari pemilik sistem operasi? Hancurlah!

Sistem paket seperti app store sudah lama dikenal oleh pengguna Linux. Ini memudahkan pengguna memasang pembaharuan yang baru tanpa harus memeriksa setiap program. Biarpun demikian tetap saja pengguna bisa memasang program sesuka hati tanpa lewat sistem paket tersebut. Kalau menggunakan Debian dan turunannya ada Personal Package Archives dan masih bisa memasang dengan cara compile kode sumber.