Seminggu yang lalu, gua nolak ngerjain sebuah proyek migrasi wesbite karena harganya terlalu murah. Mungkin menurut mereka, harga yang mereka tawarkan sudah reasonable. Padahal gua udah contoh konkrit kalo proyek migrasi sebelah butuh 5 orang dengan waktu 3 bulan, gua cuman butuh 1 bulan dan sendirian.

Kalo dihitung-hitung, mereka bisa menghemat biaya jauh lebih banyak. Gak ngerti dengan segala benefit yang gua tawarkan, harganya masih ditawar serendah-rendahnya. Akhirnya, gua tolak aja dari pada sakit hati entar ngerjainnya. Mending gua di rumah nonton dracin CEO yangg lagi nyamar.

Kalo gini, mungkin ke depannya mereka gak akan pake jasa gua. Sekarang nyari programmer itu gampang, kok. Apalagi kalo emang punya duit. Seenggaknya, mereka akan terkejut dengan harga yg mereka dapatkan.

Akhirnya Ubuntu mengalami hal sama seperti di Arch Linux setelah mendapat update terbaru untuk NVIDIA. Compositor Xfce terpaksa gua matiin karena kedap-kedip gak jelas. Tampilannya pun berasa datar jadinya.

Setelah sekian tahun, akhirnya gua memutuskan untuk pindah ke Cinnamon. Ternyata desktop environment yang satu ini lebih modern untuk digunakan. Versi XWayland juga sudah bisa digunakan walaupun masih experimental. Sebelumnya gua udah coba pake hyprland dan niri tapi Cinnamon akan jadi pilihan terakhir.

Yes, ini Cinnamon dipake di Ubuntu bukan di Linux Mint.

Sebenarnya gak hanya di Windows perangkat tua akan dianggap usang, di Linux pun pada akhirnya akan melakukan hal yang sama. Ini terjadi pada driver Nvidia di GPU yang gua pake. Setidaknya di Arch Linux sudah terjadi, di Ubuntu saat ini belum.

GPU yang gua pake adalah NVIDIA GeForce GTX 750 Ti. GPU yang udah bisa dibilang sangat tua. Saat Arch Linux memutuskan untuk menggunakan Nvidia versi 590, GPU ini sudah gak dikenali. Bahkan gak bisa diperbaiki karena Nvidia versi 580 sudah gak ada di repositori utama. Harus pasang lewat AUR.

Setelah nanya-nanya ke ChatGPT karena perasaan gua gak enak, ternyata untuk versi yang akan datang Ubuntu juga akan pindah ke versi 590. Ini membuat gua agak sedikit galau karena akan sedikit khawatir beberapa aplikasi yang segera meninggal versi yang lama.

Mengganti GPU ke yang baru sepertinya gak mungkin apalagi di era gempuran perusahaan AI yang sudah ngerusak harga. Belum lagi masalah kompabilitas perangkat lainnya seperti motherboard yang juga sudah tua.

Akhirnya gua ngalamin hal yang gak mengenakkan menggunakan Arch Linux. Pembaharuan driver nvidia terakhir membuat Xfce sedikit bermasalah. Kedap-kedip terus bikin gak nyaman. Udah nyari cara buat memperbaiki tapi gak satu pun memberikan solusi.

Jalan terakhir, gua terpaksa mematikan compositor dan akhirnya Xfce berjalan dengan baik. Tanpa compositor, tampilan terasa datar. Window gak tansparan, conky jadi aneh karena ada kotak besar, juga terjadi di Zed Editor.

Gua penasaran kalo masalah ini cuman terjadi Xfce. Ternyata di hyprland semuanya berjalan normal tanpa ada kedap-kedip. Masalah selanjutnya, gua gak suka tiling!

Setelah mencari cara mematikan tiling, bisa memindahkan dan mengubah ukuran window, dan mengatur hyprland, biar lebih nyaman. Untuk sementara sampai Xfce normal kembali, hyprland menjadi tempat pelarian.

I use arch, btw

Akhirnya gua memutuskan untuk memasang Arch Linux sebagai daily driver lainnya. Gua masih tetap pake Ubuntu sebagai sistem operasi utama karena banyak kerjaan di sana. Arch Linux gua pasang setelah gua tahu ternyata punya penyimpanan yang nganggur.

Memasang Arch Linux gak seseram yang gua pikirkan. Dengan mengeksekusi archinstall, prosesnya menjadi mudah; hanya perlu ketelitian apalagi saat memilih penyimpanan yang tepat. Gua punya pengalaman kesalahan memilih tempat penyimpanan yang berakibat terhapusnya sistem operasi utama.

Saat lu memasang sistem operasi yang baru lu kenal, yang pertama yang harus dipelajari adalah memasang aplikasi/paket yang ada. Misalnya, gimana cara memasang sebuah browser. Kemudian mempelajari cara mencopot aplikasi yang udah gak dipake lagi. Selebihnya, mau apapun distro Linux yang lu gunakan, cara kerjanya gak jauh berbeda.

Biarpun gua pernah pake paru untuk memasang aplikasi, saat ini gua memaksakan diri hanya memasang dari repositori atau situsweb resmi. Beberapa waktu yang lalu ada berita yang gak begitu mengenakkan datang dari repositori pengguna. Dengan alasan ini juga, aplikasi default yang gua pake agak sedikit berbeda dengan yang ada di Ubuntu.

Misalnya untuk browser, gua pake Brave Browser di Ubuntu. Sedangkan di Arch Linux, gua pake Chromium yang akhirnya gua pindah ke Zen Browser karena tinggal ekstrak.

Bisa dibilang Microsoft melakukan langkah salah yang fatal dengan mengharuskan penggunanya menggunakan akun online buat menggunakan Windows 11. Komputer itu berbeda dengan smartphone yang kalo digunakan secara maksimal harus terkoneksi internet. Bahkan Android bisa berkerja dengan baik tanpa harus mendaftarkan akun ke Google.

Seperti yang gua bilang sebelumnya, selama gua nggak pake hardware yang baru, gua nggak perlu menggunakan Windows 11. Windows 10 masih akan bertahan satu dekade ke depan.

Setelah dipikir-pikir, selama industri nggak mulai mengadopsi alternatif lain seperti Linux bahkan macOS, Windows ini akan bikin masalah nantinya. Kebanyakan hardware yang baru akan memberikan driver yang kompatibel biasanya untuk Windows. Linux nggak dilirik.

Untungnya, ada Android yang bisa ngasih angin segar. Produsen hardware senggaknya mulai membuat barang-barangnya bisa digunakan di perangkat ini.

Kalo sesuai zona waktu Amerika, hari ini dukungan untuk Windows 10 sah berakhir. Sebenarnya hampir lebih 1 dekade, gua jarang buka Windows. Tetapi setelah buka studio foto, gua kembali pake sistem operasi ini.

Beberapa perangkat lunak memang berjalan lebih baik di Windows dari pada di Linux. Salah satunya adalah perangkat lunak penyunting foto. Biarpun ada beberapa alternatif yang open source tapi sulit mengubah kebiasaan. Beberapa workflow yang berbeda bikin gua harus selalu mencari di Google.

Masalah yang krusial lainnya kenapa gua tetap masih menggunakan Windows yaitu printer! Kalo cuman mau mencetak hitam putih, di Linux hasilnya udah cukup bagus. Lain ceritanya kalo mau mencetak foto berwarna. Nggak adanya opsi untuk mengatur untuk kebutuhan ini membuat hasilnya nggak sesuai. Tintanya entah kenapa selalu luntur.

Apakah dengan berakhirnya dukungan Windows 10 ini membuat gua akan pindah Windows 11? Jawabannya, nggak! Spesifikasi komputer gua nggak mendukung Windows 11. Microsoft malah menyarankan gua untuk membeli perangkat yang baru. Tentu ini bukan solusi untuk usaha yang keuntungannya masih recehan.

Windows 10 ini masih akan gua pake mungkin sampe 10 tahun ke depan selagi masih berfungsi dengan baik. Selama perangkat kerasnya bukan barang-barang terbaru, gua nggak perlu perangkat lunak yang baru.