Ronsen's Blog

Mencari Aplikasi E-mail yang Baru

Friday, May 30, 2014

Sejak adanya media sosial di Internet, cara berkomunikasi orang-orang pun mulai berubah. E-mail, walaupun sedikit mulai ditinggalkan, masih tetap menjadi sarana komunikasi yang lebih umum dibanding media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Path. E-mail tidak membutuhkan permintaan pertemanan ataupun mengikuti seseorang orang dulu baru bisa ngobrol. Hanya dengan mengetahui alamat yang bersangkutan, kita dapat langsung mengirim pesan kepadanya.

Aku sudah menggunakan beberapa aplikasi klien e-mail yang tersedia di Linux seperti Evolution dan Thunderbird. Evolution tersedia secara default saat memasang Linux (Ubuntu). Tampilannya benar-benar kompleks dan wah bagi pengguna baru. Selain e-mail, Evolution juga menyediakan aplikasi kalendar. Benar-benar aplikasi yang lengkap untuk perkantoran. Sedangkan Thunderbird adalah aplikasi sudah sangat lama kupergunakan. Sejak Mozilla mengumumkan tidak lagi serius mengembangkan Thunderbird, aku pun mulai mencari alternatif dari kedua aplikasi ini.

Sebenarnya ada alasan lain aku mulai meninggalkan Thunderbird, alasannya adalah IMAP. Sepertinya protokol ini tidak terlalu keren di Thunderbird, tidak seperti saudaranya POP3. POP3 sangat baik jalan di Thunderbird sedangkan IMAP sepertinya menjadi anak tiri di sini. Setiap kali membuka Thunderbird, aplikasi ini sibuk mengunduh ulang e-mail yang ada. Kalau sedikit sih tidak membuat risih, beda kalau harus mengunduh ribuan e-mail berulang-ulang.

Kalau alasan tersebut, akupun mencari penggantinya. Aku dulu pernah mendengar dan mencoba Geary. Sebuah aplikasi e-mail yang menurutku sangat sederhana. Sampai kucoba beberapa hari yang lalu, Geary bukan sebuah aplikasi yang bagus, bahkan kalau bisa dibilang sangat buruk. Tidak ada satupun e-mail yang muncul. Pokoknya belum pernah aku melihat aplikasi separah Geary sebelumnya. Tetapi versi yang baru membuatku berubah pikiran. Geary sangat ringan dan mudah digunakan, ditambah dukungan IMAP yang lebih baik dari Thunderbird.

Rutinitas Pagi

Thursday, May 29, 2014

I'm not a morning person.

Dulunya aku pikir begitu. Sejak ada Internet sepertinya kata-kata sudah tidak memiliki makna lagi. Setiap pagi walaupun masih sedikit ngantuk, yang pertama kulakukan adalah memegang gadget. Karena biarpun rasanya ingin melanjutkan tidur tetap saja kepala kepikiran terus untuk memeriksa perkembangan yang terjadi di dunia maya.

Biasanya yang pertama kucek adalah media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram, Path, dll. Ini untuk mengetahui apa yang menjadi topik yang hangat di lingkaran sosialku. Sebenarnya ini membuat lingkup diriku menjadi lebih kecil karena sebenarnya dunia itu lebih besar dari yang kulihat. Tetapi kemudian aku menyakinkan diri, terlalu banyak informasi juga tidak membuat hidupmu lebih baik.

Setelah mengecek media sosial, selanjutnya aku membaca (sekilas) semua daftar pengumpan RSS yang kusimpan di Feedly. Dulunya aku penggemar Google Reader dan sekarang aku harus berterima kasih kepada Google karena mereka akhirnya mematikan layanan tersebut, aku bisa beralih ke layanan yang lebih baik. RSS, dalam hal ini adalah blog, agak jauh berbeda dengan media sosial mungkin karena butuh waktu dan tenaga untuk menulis di sana. Biasanya dan seringnya aku tidak punya cukup waktu untuk membaca semua artikel yang ada di situ.

Selanjutnya aku selalu membiarkan jendela Twitter, Facebook, dan Hacker News untuk tetap terbuka sepanjang hari. Biasanya kalau sudah jemu bekerja, aku sering kembali membuka ketiga situs tersebut suapaya tidak ketingggalan informasi dan perkembangan baru.

Bullying di Sekitar Kita

Saturday, May 24, 2014

Aku pernah di-bully ketika sekolah dulu dan aku juga pernah mem-bully orang pada saat yang sama. Di era Internet seperti ini aku juga masih sering melakukan hal yang sama walupun seringnya tanpa sadar. Biasanya terjadi kalau debat menjadi sedikit panas. Bahkan aku juga sering dengan mudahnya melihat orang lain melakukan hal yang sama.

Setelah mengamati perkara bullying ini, aku menarik kesimpulan bahwa bullying sangat sulit dihindarkan; semudah jari-jari menekan tombol keyboard, semudah itu juga menyerang orang lain. Terpenting sebenarnya melengkapi diri pengguna Internet menghadapi kejadian seperti ini di kemudian hari. Entah siapa atau entah kapan bisa saja orang lain menyerang kita karena tidak suka dengan apa yang kita tulis.

Orang di sini terkenal kasar dibanding daerah yang lain. Makian selalu diucapkan di setiap kalimat. Setiap kalimat! Jika dimaki sudah sangat lumrah jika dimaki balik. Memang kalau dilihat seperti zaman bar-bar. Setidaknya semua berakhir dengan perkelahian, tidak ada korban yang diam saja diperlakukan seenaknya oleh pihak lain.

Well...

Pemblokiran Pornografi adalah Pekerjaan yang Sia-sia

Sunday, May 18, 2014

Pemblokiran Vimeo beberapa hari ini menambah daftar pertanyaanku tentang kinerja Kemenkominfo. Dengan alasan klasik kalau layanan berbagi video itu memuat konten pornografi, pemerintah pun mengambil keputusan untuk menutup akses dari negara Indonesia. Alasan tersebut tidak cukup untuk memuaskan para pengguna Internet di Indonesia karena misalnya saja, Youtube, layanan serupa, memiliki konten yang sama tetapi tidak mengalami nasib yang sama dengan Vimeo.

Jika kita ingat kejadian yang dulu, Youtube pernah sempat diblokir oleh pemerintah tetapi bukan karena pornografi tetapi karena untuk video Fitna yang diunggah oleh Geert Wilders, seorang politikus sayap kanan negara Belanda, yang diklaim menghina agama Islam. Beberapa orang berpikir tindakan pemerintah sangat cepat untuk melakukan pemblokiran terhadap Vimeo karena diduga adanya video seronok saat kampanye yang digelar salah satu calon legislatif dari Partai Keadilan Sejahtera. Bisa dilihat kenapa mereka begitu reaktif?

Pemblokiran Pornografi

Memang pemblokiran pornografi sudah diatur di dalam Undang-undang yaitu pada UU Informasi dan Transaksi Elektronik. Jika melihat kasus Vimeo ini sangat terkesan tebang pilih. Tidak hanya Vimeo yang memuat konten pornografi; semua situs besar yang ada di Internet pasti ada berbau porno, contohnya di Google, Facebook, dan bahkan Twitter. Kenapa situs-situs tersebut tidak diblokir?

Sampai kapanpun pornografi tidak bisa diberantas. Analoginya seperti menguras air laut hingga kering. Kau bisa saja memakai alat tercanggih apapun yang pernah diciptakan manusia tetapi pada akhirnya kau akan sadar sendiri bahwa air laut tidak akan pernah terlihat berkurang seberapapun gigih dan kerasnya kau bekerja.

Salah satu alasan kenapa lagi kenapa pemblokiran pornografi sia-sia adalah sangat mudahnya untuk membuka kembali situs yang telah diblokir. Cara yang paling sering digunakan orang adalah menggunakan proxy server ataupun situs proxy, mengganti DNS dengan menggunakan Google DNS atau OpenDNS, menggunakan VPN, dll.

Pornografi

Pornografi tidak akan bisa diblokir oleh pemerintah karena pornografi itu letaknya di otak manusia. Situs-situs tersebut hanya memuaskan hasrat visual manusia. Karena tidak ada seorangpun tahu kapan dan di mana seseorang itu sedang berpikiran seksi (pornografi itu tidak jorok). Manusia itu porno sejak organ-organ seksualnya tumbuh. Peraturan dan undang-undang tidak akan bisa menghalangi hasrat tersebut karena itu merupakan keinginan natural makhluk hidup.

Makanya pendidikan seksual itu sudah seharusnya diajarkan di sekolah. Termasuk di antara mempelajari hal-hal mengenai kejahatan seksual. Pornografi sendiri tidak merugikan siapa-siapa, yang merugikan itu tindakan kriminalnya.

Apa Jadinya kalau Syariat Islam diterapkan di Indonesia?

Friday, May 9, 2014

Bagi umat Muslim, penerapan Syariat Islam mungkin bisa dikatakan adalah hasrat terdalam mereka. Tentu saja tidak  bagi umat beragama yang lain. Apapun argumen yang mereka berikan dan sesempurma apapun bentuk yang kalian dikatakan, tidak akan membuatku merasa nyaman. Betapa tidak, aturan-aturan yang sering kubaca di berbagai media membuatku tidak begitu simpatik terhadap aturan yang dijalankan suatu negara atau daerah.

Jikapun nantinya suatu saat perjuangan mereka berhasil, menjadikan negara Indonesia menjadi negara Islam, kemana aku sebagai non-muslim harus berada? Apakah aku akan pindah ke negara yang lebih sekuler? Tidak mungkin juga. Memulai perjuangan mengembalikan Pancasila ke tempat seharusnya? Kek gua nggak ada kerjaan lagi aja. Pasrah? Ehe...

Sebenarnya aku bukan hanya risih dengan Syariat Islam, negara Amerika yang terlalu dicampur dengan ajaran Kristen saja membuatku miris. Misalkan saja, mereka yang gay selalu tersudutkan karena orang-orang Kristen sulit menerima keberadaan mereka. Membayangkan hal tersebut terjadi di Indonesia akan menjadi malapetaka bagi kaum homoseksual. Dan masih banyak hal-hal tidak penting lainnya terhalangi oleh karena ajaran agama tidak merestui.

Aku sangat setuju agama dan negara harus dipisahkan. Agama itu mengatur wilayah pribadi manusia. Kalaupun kau beranggapan ajaran agamamu itu baik, ya sudah lakukan sendiri. Tidak perlu sampai ngotot ingin dimasukkan ke undang-undang atau peraturan daerah. Istilahnya, jika surga yang kauincar, kau tidak perlu memaksaku mengikutimu.