Ronsen's Blog

Berdamai dengan Internet

Thursday, June 26, 2014

"Someone is wrong on the Internet." — Duty Calls
Internet adalah sebuah raksasa media sosial, jangan dikerdilkan media sosial itu hanya Facebook, Twitter, dan Path. Secara umum semua orang bisa berinteraksi dengan bebas tanpa dibatasi layanan yang digunakannya. Kelebihan Internet ini adalah setiap opini atau pendapat yang kita keluarkan dapat juga dengan bebas dibaca oleh orang lain. Makanya sangat mudah kita menjumpai orang yang berbeda pandangan dengan kita.

Dulunya aku suka berdebat (dan mungkin akan masih) dengan orang-orang di Internet. Mungkin saja mereka adalah teman atau orang yang baru kukenal. Profesi dan latar belakang mereka pun belum tentu kuketahui. On the Internet, nobody knows you're a dog, begitulah kira-kira. Hanya satu yang perlu kuingat saat berdebat, jika sudah emosi yang berbicara, saat itu kita sudah berada di pihak yang kalah.

Saat ini Indonesia akan merayakan perayaan pemilihan Presidennya. Uniknya kali ini calonnya hanya dari 2 kelompok. Menjadikan Pilpres kali ini sangat mengerikan menjelang hari-hari terakhir. Kampanye hitam sangat sering terlihat berseliweran di media-media sosial mainstream seperti Facebook dan Twitter. Kebodohan dipertontonkan secara gamblang di muka publik sering membuat gerah mereka yang membacanya.

Fitnah dan kebencian yang sekarang digunakan sebagai kampanye bukan terjadi saat ini saja. Dulu, informasi yang menebarkan kebencian sudah mulai tumbuh seiring dengan berkembangnya Internet. Rasisme dan kebencian sebuah kaum sering ditulis di media daring. Jadi wajar saja beberapa orang terkejut membaca fitnah-fitnah seperti ini, mungkin belum menemukan hal-hal seperti ini saat berseluncur di Internet.

Untungnya belajar dari masa lalu membuatku tidak terlalu terpancing dengan banyaknya informasi sampah yang dibuang oleh orang-orang yang menghabiskan waktunya di Internet. Daripada pusing mengedukasi manusia menggunakan Internet dengan etika dan logika, lebih baik aku menganggap itu semua sebagai bagian dari uniknya kepribadian manusia. Bukan bagianku untuk mengubah masyarakat menjadi cerdas dan bermatabat karena aku tidak memiliki kapasitas di sana.

Menerima kekurangan itu membuatku berdamai dengan Internet. Tidak lagi pusing dengan banyaknya informasi buruk yang bertebaran dimana-mana tanpa filter. Tidak lagi berusaha meluruskan mereka yang kupikir salah. Ini juga membuat aku tidak ambil pusing apakah tulisan maupun opiniku berseberangan dengan orang lain. Kalau mau didebatkan silakan, mau dinyinyirin yah fine fine saja.

Makan Bareng

Saturday, June 14, 2014

Gua pengen ngomongin tentang kode etik makan bareng yaitu masalah pembayaran. Ada bedanya antara makan bareng sama cowok dan cewek, yang lagi pdkt dan dengan teman biasa. Tentu saja ini menurut pengalaman yang pernah gua jalanin. Jadinya bisa saja beda dengan kalian.

Kalau teman biasa setiap kali lu ngajak dia, tentu saja pas pembayaran sesuai dengan keikriban kalian berteman. Kalau teman akrab biasanya yang bayar yang ditinggal terakhir karena yang lain udah pada kabur duluan. Biasanya modusnya kalo nggak beli rokok atau mo jemput ceweknya masing-masing terus pura-pura lupa udah makan dua mangkok mie pangsit.

Di lain waktu, gua sering ngajak cewek yang gua suka ataupun teman cewek makan bareng. Biasanya ini kalo gua udah bete di kosan. Gua udah siapin dana yang banyak untuk bayarin dia. Biar dibilang gentleman juga sih. Jangan coba-coba ngajak cewek deh tapi pas bayaran ternyata sendiri-sendiri. Mending lu potong tuh burung lu. Dan buat cewek, bukan berarti elu dibilang matre kalo sering gua bayarin. Itu kode kalo gua suka sama elu. Siap-siap aja suatu saat gua tembak. Dor!

Nah yang aneh itu ngajak teman cowok. Ini terjadi mungkin di kampung gua aja. Pas gua di Jakarta gua jarang ketemuan begini. Kalo cowok-cowok di sini kalo diajak berarti elu harus bayarin dia juga. What the fuck! Gitu deh reaksi gua pertama kali dengar yang teman gua ngomong begini. Makanya pas gua pindah dari Jakarta sampai sekarang belum pernah ngajak teman cowok jalan bareng buat having fun. Ataupun pas ngajak, gua udah kasih aba-aba dulu kalo nanti bayarnya masing-masing, kalo nggak yah mending gua ngajak cewek dong.

Regenerasi

Friday, June 6, 2014

Dengan jangka hidup yang tergolong pendek, manusia dapat mewariskan semua ilmu yang pernah ada bahkan bisa mengembangkannya. Ilmu itu juga mengalami evolusi seperti manusia; yang berkembang adalah yang ilmu yang akan digunakan atau diterapkan, yang tidak berguna perlahan akan mati.

Kalau diambil contoh bisa aku misalkan teknologi yang kita gunakan. Teknologi 10 tahun yang lalu kita gunakan sangat jauh berbeda dengan yang sekarang. Membuat aku tidak bisa membayangkan seperti apa nanti 10 tahun mendatang. Biarpun pengaruhnya sedikit membuat kesal melihat generasi sekarang lebih sering menunduk memandang telepon selulur daripada bersosialisasi langsung dengan lingkungannya.

Inilah yang membuat aku bertanya-tanya, kapan para ilmuwan ini belajar. Bukankah semua dimulai dari 0 (nol), kemudian perlahan berusaha mengikuti teknologi yang sekarang kemudian mengembangkannya? Berapa orang yang mampu bertahan dan berapa yang gugur perlahan karena tidak sanggup? Berapa tahun lagi perang bintang akan benar-benar terjadi?