Ronsen's Blog

When Google Bot's Love Becomes A Bad Thing

Thursday, August 28, 2014

Jadinya ceritanya situs web kecil-kecilan gua mati pas gua cek pagi-pagi. Eh, gua bangunnya agak siangan sih, sekitar jam setengah 12. Udah nggak pagi lagi yah? Eniwei, gua buka dasbor admin buat ngeliat apa gerangan yang terjadi. Pas gua liat log, ternyata Google Bot lagi sibut nge-crawl dengan kejamnya. Udah tau lagi down tetap aja sibuk nge-crawl. Istirahat kek dulu!



Akhirnya gua belajar banyak dari sini. Selalu bikin robots.txt dan definisikan URL apa yang bisa dan nggak bisa diakses oleh bot.

Internet Cepat Buat Apa?

Wednesday, August 13, 2014

Suatu ketika seorang menteri pernah bertanya, "Internet cepat itu buat apa?"

Pada artikel sebelumnya aku menceritakan tentang bagaimana kekuatan kita sebagai netizen di Internet. Memang jawabannya sangat memilukan. Mungkin saja sang menteri tadi bertanya karena melihat kita pengguna Internet sebagai konsumen saja, sehingga terlontarlah pertanyaan lugu tersebut. Sangat sedikit dari kita menggunakan Internet ini sebagai lahan yang bagus untuk berinovasi. Biarpun ada beberapa situs web buatan lokal tetapi kita cenderung lebih banyak menyita waktu berseluncur di Internet menikmati konten-konten yang bagus dan menarik dari situs web luar.

Kita belum pernah melihat orang yang benar-benar menggunakan Internet secara maksimal. Seberapa cepat pun kecepatan bandwidth yang kau punya, sebagian besar hanya digunakan untuk menonton video-video di Youtube karena tidak lagi merasakan tersiksanya di-buffering atau apalah aku tidak bisa mencari contoh lain yang lebih konkrit. Bukan berarti itu kubilang negatif. Tidak. Hanya saja, sebagian kecil saja yang bisa menggunakan Internet dengan sehat. Bahkan, aku sendiri masih belum memaksimalkan bandwidth yang sekarang kumiliki. Seakan-akan hati kecil ini lama-lama bertanya, "hanya ini ajanya gunanya Internet?"

Biarpun terdengar klise, daripada kita ramai-ramai meng-cloning situs web luar menjadi situs web bercita rasa lokal, lebih baik membenahi negara ini dengan Internet. Dari Sabang sampai Merauke, pemerintahan kita di-upgrade menjadi pemerintahan online. Mempermudah layanan dari hulu ke hilir dengan Internet yang memadai sehingga banyak masyarakat terbantu. Walaupun sebenarnya aku belum bisa membayangkan seperti apa layanan itu nanti tetapi aku tetap berharap ada kemajuan. Tidak seperti saat ini yang berkesan sangat lambat dan berbelit-belit.

Pemerintahan online nantinya akan dengan sendiri mengedukasi masyarakat arti positif dari Internet. Segala urusan dibuat lebih transparan yang akan membuat kerpercayaan kita terharap pemerintah pun membaik. Dengan begini, program Internet masuk ke pedesaan lebih masuk akal. Sekarang sih, desa sudah online tapi online seperti apa tidak jelas. Jadi besok-besok saat ada yang bertanya: "Internet cepat buat apa?", dengan cepat kita menjawab, "biar gampangnya aja ngurusin entah apa." Sesimpel itu!

Cerita tentang Aaron Swartz dan Refleksinya Bagi Kemajuan Internet Kita

Sunday, August 10, 2014

Belakangan gua lagi suka nonton film dokumentasi. Alasannya sih karena lagi bosan nggak tau mau ngapain lagi. Kemudian gua cari film bisa buat mengisi waktu dan gak bikin gua bosan. Film dokumentasi yg pertama gua tonton sejak nggak pernah lagi duduk manis di depan TV adalah film tentang Aaron Swartz. Kalo kerjaan lo nggak hanya mantengin Facebook seharian pasti tau dong siapa dia. Eh, nggak juga sih, minimal kalo lo blogger pasti kenallah.

Jadi ceritanya si Swartz ini pas masih belia dan unyu sudah aktif berkontribusi untuk kemajuan Internet. Salah satunya adalah RSS, fitur sindikasi situs web yang sekarang sudah kehilangan pamornya digantikan Facebook dan Twitter. Kalo gua liat sih, dari mulai RSS ini Swartz punya rasa keterbukaan yang tinggi, bahkan sangat tinggi malah. Makanya kemudian dia mengenalkan Creative Commons, semacam jenis lisensi untuk karya cipta yang nggak seketat hak cipta (Copyright). Creative Commons bertujuan untuk melindungi sang pemilik karya yang punya semangat berbagi.

Nah di situ kemudian jadi masalah buat Swartz, rasa berbagi ini nggak dimiliki oleh sebagian instansi pemerintah di Amerika sana. Beberapa jurnal ilmiah disimpan di sebuah lembaga yang dibentuk oleh pajak rakyat Amerika tetapi kalau mau diakses harus tetap bayar. Gua bisa merasakan kesalnya Bang Swartz ini. Selain sudah dibayar dengan pajak, eh masih tetap disuruh bayar buat baca. Negara kok cari untung banget sih?! Makanya muncullah darah aktivisnya atau kalau netizen Internet bilangnya hacktivist. Melalui server MIT dia pun mengunduh satu per satu jurnal tersebut. Karena 'ulah'-nya ini, Bang Swartz pun bermasalah dengan beberapa pihak otoritas Paman Sam dan berakhir dengan bunuh diri sebelum kita tau tujuan dia mengunduh jurnal-jurnal tersebut. Hiks...

Ada satu lagi sepak terjang Aaron Swartz yang sangat berjasa bagi keterbukaan Internet; bagaimana dia memulai gerakan protes untuk menggagalkan disetujuinya SOPA dan PIPA. Sebuah rancangan UU yang ditujukan untuk mengatasi masalah pembajakan. Tetapi setelah dipelajari UU ini malah nantinya akan mengekang kebebasan berpendapat. Makanya Swartz sangat keras menentang SOPA/PIPA ini. Awalnya dia dianggap sepele oleh beberapa lawyer di sana, mereka berpikir Internet nggak punya kekuatan sama sekali untuk melawan. Ternyata mereka salah, perusahaan-perusahaan yang mendukung SOPA/PIPA rame-rame dimusuhi dan dijauhi oleh perusahaan/individu yang bergerak di bidang teknologi informasi. Kalo orang-orang di sini bilangnya boikot dan akibatnya ternyata fatal, kerugiannya nggak bisa dibilang sedikit. Singkat cerita, SOPA/PIPA pun akhirnya dibatalkan.

Betapa kuatnya kekuatan Internet di Amerika sana membuat gua merenungi kekuatan kita sambil bengong selama 3 jam mati lampu karena pemadaman bergilir yang makin menggila dilakukan PLN. Jadi ceritanya, beberapa hari yang lalu Andrew Darwis, pendiri Kaskus, diundang untuk bertemu dengan Presiden Terpilih Jokowi. Ngapain? Entahlah, gua cuman baca headline beritanya tapi nggak mungkinlah dia diundang buat ngajarin Jokowi bikin akun doang. Kalau mau dibandingkan saat Obama di awal pemerintahannya, dia duluan melakukan hal seperti ini. Tetapi Obama nggak mengundang satu orang saja, ada Mark Zuckerberg, Eric Schmidt, Steve Jobs, dan beberapa orang lain untuk membicarakan inovasi di bidang Internet. Lha, kita cuman diwakilkan oleh satu orang? Sedih banget, kan?

Israel Bangsa Pilihan Tuhan?

Sunday, August 3, 2014

Bangsa Israel sering disebut di khotbah-khotbah gereja sebagai bangsa pilihan Tuhan seperti yang tertulis di dalam Alkitab. Dan di Kejadian 12:3 dengan tegas Tuhan mengatakan akan memberkati bangsa yang memberkati Israel dan mengutuk mereka yang mengutuk Israel. Ayat ini juga dipercayai oleh orang Kristen secara umum sehingga mereka yakin negara-negara yang mendukung Israel seperti Amerika dan Inggris mendapat serpihan berkat dari Tuhan.

Bicara tentang kekristenan tentu bukan menelan begitu saja apa yang tertulis di dalam kitab suci. Ada penggenapan yang terjadi saat Yesus Kristus datang ke dunia. Bangsa Israel disebut sebagai bangsa pilihan Tuhan adalah karena dari bangsa ini akan lahir Juruselamat dan telah digenapi dengan lahirnya Sang Mesias. Sekarang bukan hanya orang Israel yang bisa disebut sebagai anak-anak-Nya tetapi siapa pun dapat dipilih menjadi biji mata Tuhan.

Banyaknya opini yang sering kita dengar mengenai bangsa Israel ini membuat mereka terlihat seperti bangsa yang memang diberkati oleh Tuhan. Banyak produk-produk yang kita pakai sekarang adalah buatan tangan mereka. Kita juga sering mendengar betapa pintar dan jenius-nya mereka. Sakingnya herannya, kadang orang Kristen lupa kalau bangsa ini juga menolak Yesus sebagai juruselamat, menyalibkan Dia, dan memburu dan membunuh orang Kristen pada awal-awal penyebaran ajaran Kristen.

Sikap dukungan beberapa orang Kristen terhadap penyerangan yang dilakukan oleh Israel terhadap negara Palestina membuatku sedih sekaligus jengkel. Seenaknya saja menggunakan agama untuk membenarkan kelakuan keji tentara Israel terhadap negara Palestina. Benar ada korban di kedua belah pihak tetapi korban sesungguhnya adalah mereka-mereka yang tidak menginginkan perang dan juga banyaknya anak-anak entah itu sebagai korban perang atau menjadi yatim piatu karena orang tuanya yang telah tiada.

Buka matamu! Israel bukan perpanjangan tangan Tuhan!

And this is not an anti-semitism post!

I re-posted this post from Facebook.