Ronsen's Blog

Berbahasa

Saturday, November 14, 2015

Sering terlihat di media-media sosial seperti misalnya Facebook, Twitter, dan Instagram, seorang artis menggunakan bahasa Inggris ketika menulis sebuah status. Kemudian dengan cepatnya muncul komentar-komentar negatif menuduh kalau sang artis tersebut tidak nasionalis, tidak bangga dengan bahasanya sendiri. Untung saja tidak sampai dituduh antek asing.

Cepatnya pengguna media sosial menuduh dan berprasangka buruk terhadap penggunaan bahasa asing oleh artis ternyata memang berhubungan dengan tingkat IQ yang rendah. Aku sih hanya menghela nafas saja melihat kebodohan yang sering ditontonkan pengguna Internet ini. Keyboard warrior dengan kelebihan bandwidth merasa diberi wewenang menghakimi orang lain.

Boleh-boleh saja sih berbangga dengan bahasa sendiri dan sah-sah saja jika merasa menggunakan bahasa yang baik dan benar menunjukkan cintamu kepada negara ini. Tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi simpan saja untuk dirimu sendiri. Jika ada yang menggunakan bahasa gado-gado (campur bahasa Indonesia, Inggris, Jawa, Batak, dll) dalam satu kalimat, tidak perlulah disindir.

Aku sendiri suka menggunakan bahasa campur-campur. Kadang menggunakan bahasa Indonesia, lebih suka bahasa Inggris di media sosial, bahasa Sunda (walaupun masih parah banget) di beberapa tempat chatting, bahasa Batak di beberapa pertemuan, bahkan aku pernah belajar bahasa Perancis dengan menggunakan aplikasi Duolinggo melalui perangkat Android (walaupun akhirnya menyerah).

Ini karena aku merasa aku adalah penduduk planet Bumi, tidak dikerdilkan dalam lingkup wilayah negara. Keanekaragaman ini membuatku tertarik dengan budaya yang ada di luar sana. Mempelajari bahasa asing adalah caraku untuk lebih mudah mengenal suatu bangsa dan suku lain. Dan jika suatu saat ada alien mampir di Bumi pun aku akan belajar bahasa mereka.

(Sumber gambar: Global Language Services)