Sebenarnya gak hanya di Windows perangkat tua akan dianggap usang, di Linux pun pada akhirnya akan melakukan hal yang sama. Ini terjadi pada driver Nvidia di GPU yang gua pake. Setidaknya di Arch Linux sudah terjadi, di Ubuntu saat ini belum.

GPU yang gua pake adalah NVIDIA GeForce GTX 750 Ti. GPU yang udah bisa dibilang sangat tua. Saat Arch Linux memutuskan untuk menggunakan Nvidia versi 590, GPU ini sudah gak dikenali. Bahkan gak bisa diperbaiki karena Nvidia versi 580 sudah gak ada di repositori utama. Harus pasang lewat AUR.

Setelah nanya-nanya ke ChatGPT karena perasaan gua gak enak, ternyata untuk versi yang akan datang Ubuntu juga akan pindah ke versi 590. Ini membuat gua agak sedikit galau karena akan sedikit khawatir beberapa aplikasi yang segera meninggal versi yang lama.

Mengganti GPU ke yang baru sepertinya gak mungkin apalagi di era gempuran perusahaan AI yang sudah ngerusak harga. Belum lagi masalah kompabilitas perangkat lainnya seperti motherboard yang juga sudah tua.

Akhirnya gua ngalamin hal yang gak mengenakkan menggunakan Arch Linux. Pembaharuan driver nvidia terakhir membuat Xfce sedikit bermasalah. Kedap-kedip terus bikin gak nyaman. Udah nyari cara buat memperbaiki tapi gak satu pun memberikan solusi.

Jalan terakhir, gua terpaksa mematikan compositor dan akhirnya Xfce berjalan dengan baik. Tanpa compositor, tampilan terasa datar. Window gak tansparan, conky jadi aneh karena ada kotak besar, juga terjadi di Zed Editor.

Gua penasaran kalo masalah ini cuman terjadi Xfce. Ternyata di hyprland semuanya berjalan normal tanpa ada kedap-kedip. Masalah selanjutnya, gua gak suka tiling!

Setelah mencari cara mematikan tiling, bisa memindahkan dan mengubah ukuran window, dan mengatur hyprland, biar lebih nyaman. Untuk sementara sampai Xfce normal kembali, hyprland menjadi tempat pelarian.

I use arch, btw

Akhirnya gua memutuskan untuk memasang Arch Linux sebagai daily driver lainnya. Gua masih tetap pake Ubuntu sebagai sistem operasi utama karena banyak kerjaan di sana. Arch Linux gua pasang setelah gua tahu ternyata punya penyimpanan yang nganggur.

Memasang Arch Linux gak seseram yang gua pikirkan. Dengan mengeksekusi archinstall, prosesnya menjadi mudah; hanya perlu ketelitian apalagi saat memilih penyimpanan yang tepat. Gua punya pengalaman kesalahan memilih tempat penyimpanan yang berakibat terhapusnya sistem operasi utama.

Saat lu memasang sistem operasi yang baru lu kenal, yang pertama yang harus dipelajari adalah memasang aplikasi/paket yang ada. Misalnya, gimana cara memasang sebuah browser. Kemudian mempelajari cara mencopot aplikasi yang udah gak dipake lagi. Selebihnya, mau apapun distro Linux yang lu gunakan, cara kerjanya gak jauh berbeda.

Biarpun gua pernah pake paru untuk memasang aplikasi, saat ini gua memaksakan diri hanya memasang dari repositori atau situsweb resmi. Beberapa waktu yang lalu ada berita yang gak begitu mengenakkan datang dari repositori pengguna. Dengan alasan ini juga, aplikasi default yang gua pake agak sedikit berbeda dengan yang ada di Ubuntu.

Misalnya untuk browser, gua pake Brave Browser di Ubuntu. Sedangkan di Arch Linux, gua pake Chromium yang akhirnya gua pindah ke Zen Browser karena tinggal ekstrak.

Bisa dibilang Microsoft melakukan langkah salah yang fatal dengan mengharuskan penggunanya menggunakan akun online buat menggunakan Windows 11. Komputer itu berbeda dengan smartphone yang kalo digunakan secara maksimal harus terkoneksi internet. Bahkan Android bisa berkerja dengan baik tanpa harus mendaftarkan akun ke Google.

Seperti yang gua bilang sebelumnya, selama gua nggak pake hardware yang baru, gua nggak perlu menggunakan Windows 11. Windows 10 masih akan bertahan satu dekade ke depan.

Setelah dipikir-pikir, selama industri nggak mulai mengadopsi alternatif lain seperti Linux bahkan macOS, Windows ini akan bikin masalah nantinya. Kebanyakan hardware yang baru akan memberikan driver yang kompatibel biasanya untuk Windows. Linux nggak dilirik.

Untungnya, ada Android yang bisa ngasih angin segar. Produsen hardware senggaknya mulai membuat barang-barangnya bisa digunakan di perangkat ini.

Kalo sesuai zona waktu Amerika, hari ini dukungan untuk Windows 10 sah berakhir. Sebenarnya hampir lebih 1 dekade, gua jarang buka Windows. Tetapi setelah buka studio foto, gua kembali pake sistem operasi ini.

Beberapa perangkat lunak memang berjalan lebih baik di Windows dari pada di Linux. Salah satunya adalah perangkat lunak penyunting foto. Biarpun ada beberapa alternatif yang open source tapi sulit mengubah kebiasaan. Beberapa workflow yang berbeda bikin gua harus selalu mencari di Google.

Masalah yang krusial lainnya kenapa gua tetap masih menggunakan Windows yaitu printer! Kalo cuman mau mencetak hitam putih, di Linux hasilnya udah cukup bagus. Lain ceritanya kalo mau mencetak foto berwarna. Nggak adanya opsi untuk mengatur untuk kebutuhan ini membuat hasilnya nggak sesuai. Tintanya entah kenapa selalu luntur.

Apakah dengan berakhirnya dukungan Windows 10 ini membuat gua akan pindah Windows 11? Jawabannya, nggak! Spesifikasi komputer gua nggak mendukung Windows 11. Microsoft malah menyarankan gua untuk membeli perangkat yang baru. Tentu ini bukan solusi untuk usaha yang keuntungannya masih recehan.

Windows 10 ini masih akan gua pake mungkin sampe 10 tahun ke depan selagi masih berfungsi dengan baik. Selama perangkat kerasnya bukan barang-barang terbaru, gua nggak perlu perangkat lunak yang baru.

Selain jadi programmer, keseharian gua habiskan menjadi fotografer. Gua punya studio foto kecil-kecilan untuk mengisi waktu agar terkesan produktif.

Tempat penyimpanan jadi permasalahan untuk bisnis yang berhubungan dengan foto. Ukuran 1 foto bisa mencapai 5-6 MB bisa membuat storage perlahan-lahan penuh. Gak jarang 1 sesi foto aja bisa memakan storage dari 500 MB sampe 1 GB lebih.

XnView MP adalah perangkat lunak yang gua pakai buat mengelola berkas-berkas foto. Biarpun closed source tapi gua suka pakai software ini karena cocok dengan experience gua. Generate thumbnail serasa sangat cepat dibandingkan dengan menggunakan file manager bawaan sistem operasi. Selain itu, gua pakai untuk resize foto.

XnView MP emang tool yang lumayan powerful tapi sebagai pengguna Linux tingkat advanced, gak lucu kalo gak pake terminal buat ngerjain sesuatu yang berulang. Dengan bantuan imagemagick, proses resizing menjadi lebih mudah. Berikut baris perintahnya:

for i in *.JPG; do magick $i -resize 50% -quality 76 NewFolder/$i; done

Dari baris perintah tersebut, bisa disimpulkan ukuran fotonya gua kecilin setengahnya dengan kualitas 76%. Angka-angka ini gua pergunakan dari hasil baca-baca blog orang yang sering berkutat di bidang pengelolaan citra. Hasil resize ini bisa menghasilkan ukuran berkas foto menjadi 300-400KB. Cukup untuk menghemat storage tanpa harus membuang foto-foto lama.

Berikut script lengkapnya:

#!/usr/bin/env bash

if [ -z "$1" ]; then
	echo "Error: No directory specified."
	echo "Usage: $0 <directory>"
	exit 1
fi

cd "$1"

if [ ! -d "$1/resized" ]; then
	mkdir -p "$1/resized"
fi

for i in *.JPG *.jpg; do
	echo "Resizing $i..."
	magick "$i" -resize 50% -quality 76 "$1/resized/$i";
done

Hari ini gua belajar kalo direktori .cache yang ada di home bisa di-mounting ke tmpfs. Berikut baris yang gua tambahin ke berkas /etc/fstab.

tmpfs /home/ronsen/.cache tmpfs size=2G,uid=1000,gid=1000,rw,nosuid,noexec,nodev 0 0

Biarpun gua tau cache bisa membuat cepat sebuah program berjalan tapi di sini gua gak butuh berkas-berkas sampah yang entah dari kapan makin lama makin menumpuk.